Minggu, 25 Desember 2016

Artikel Perdagangan Pangan





PERDAGANGAN PANGAN


SUARA MERDEKA – Artikel Toto Subandriyo berjudul Efektifitas Harga Acuan Pangan (Suara Merdeka, 9 September 2016) cukup menarik perhatian. Jika kita melihat kebijakan pemerintah dalam menangani harga bahan pangan belum terpenuhi. Menteri perdagangan berjanji akan menurunkan dan menciptakan harga pangan, setelah melakukan konsolidasi internal, Mendeg mengeluarkan peraturan baru yang berisi penetapan tujuh komoditas pangan, yaitu beras, jagung, kedelai, gula, bawang merah, cabai, dan daging sapi. Penetapan harga acuan tersebut diharapkan dapat mengendalikan harga ditingkat konsumen, tapi tetap menguntungkan bagi petani dan peternak. Setiap tahun harga bahan pangan pun berganti-ganti dan kestabilan harga pangan menjadi tergeser dan memicu pada harga pasar. Penetapan tujuh komoditas pangan ini tertuang dalam Pemendag Nomor 63/M-DAG/PER/09/2016 tentang Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Penetapan ini sekaligus sebagai tindak lanjut amanat Perpres No.71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan penyimpanan barang kebutuhan pokok dan barang penting. Sistim perdagangan dunia yang semakin terbuka atau pasar bebas mempengaruhi harga pangan yang ikut terpengaruh oleh situasi dan kondisi harga internasional. Harga komoditas pangan menjadi berfluktuasi. Kebijakan harga pangan yang komprehensif dapat merespon beberapa perubahan lingkungan ekonomi global dan sistem manajemen pemerintahan agar tidak ada lagi krisis ekonomi. Penegakan hukum juga harus ditegaskan agar mereka dapat menaati peraturan yang ada dan bisa menjamin ketersediaan bahan pangan dan menjamin kelancaran distribusi.

Pentas Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah

Pentas Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah

Gedung pusat lantai 7 kembali membuat pementasan teater yang diperankan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang dari ukm Teater Gema. Pementasan teater ini menarik sekali karena tidak hanya mahasiswi dari fakultas pendidikan bahasa indonesia saja yang menonton banyak dari fakultas lainnya juga.
Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah sangat menarik untuk ditonton. Pada pentas yang pertama yaitu Jaka Tarub membuat saya terpukau karena pada awalnya menceritakan tentang seorang laki-laki yaitu Jaka ingin menikah karena itu adalah permintaan ibunya yang terakhir. Tetapi Jaka ingin menikah dengan seorang bidadari dari kayangan, ia bercerita kepada temannya yang bernama kang bomo mendengar cerita dari Jaka kang bomo hanya menanggapi dengan becanda. Kang bomo memberikan arahan agar Jaka mencari istri yang nyata bukan khayalan tetapi Jaka teguh pada pendiriannya, ia tetap akan mencari seorang istri bidadari. Suatu hari ketika Jaka pergi berburu ke hutan ia mendengar ada banyak sekali wanita cantik yang turun dari langit lalu mereka berbincang-bincang, Jaka yang bersembunyi di balik pohon ia sambil mendengarkan dan memperhatikan. Ketika 7 bidadari itu menuju sungai yang jernih, 7 bidadari itu melepas pakaian dan selendang mereka di atas batu tepat di sebelah Jaka Tarub. Jaka langsung mengambil salah satu selendang milik bidadari itu, ketika 7 bidadari itu selesai mandi mereka langsung mengambil pakaian dan selendang mereka masing-masing hanya ada satu bidadari yang kebingungan mencari selendangnnya yang hilang diambil Jaka Tarub. Bidadari itu menyuruh adik-adiknya untuk pulang karena sudah waktunya untuk pulang ke kayangan, adik-adiknya tidak ingin meninggalkan kakanya itu tetapi kakanya meyakini bahwa ia akan cepat kembali ke kayangan akhirnya mereka kembali pulang tanpa kakanya itu. Bidadari yang kehilangan selendang itupun langsung mencari kemana-mana selendangnya dan ia berjanji bahwa jika perempuan yang menemukan selendang itu akan dijadikan saudara tetapi jika laki-laki akan dijadikan suami. Jaka yang masih bersembunyi itu diam-diam mendengar dan ia langsung kembali kerumah untuk memberi baju peninggalan ibunya kepada bidadari itu. Setelah kembali lagi ke sungai Jaka memperkenalkan diri pada bidadari itu, nama bidadari itu adalang Nawang Wulan. Jaka langsung menagih janji yang Nawang itu buat, lalu mereka kembali kerumah Jaka dan Jaka segera mempersunting Nawang. Tiba-tiba ditengah-tengah pementasan ada 3 orang yang gendut yaitu tomo bertoto mereka membicarakan tentang pencalonan lurah, saya sebagai penonton kurang memahami apa maksud datangnya tomo bertoto itu tetapi cukup menghibur karena mereka memperlihatkan kelucuan mereka. Lalu setelah itu dilanjutkan lagi pementasan Jaka Tarub, setelah beberapa bulan Nawang Wulan hamil dan saatnya melahirkan. Nawang Wulan melahirkan anak perempuan yang diberi nama Nawang Wulan juga. Suatu hari Nawang akan mencuci pakaian di sungai lalu Jaka menjaga anaknya itu, Nawang berpesan agar Jaka mematikan api karena Nawang sedang memasak nasi tetapi Jaka tidak diperbolehakan melihat atau mengintip nasi yang sedang dimasak itu. Beberapa saat kemudian Jaka pergi ke dapur dan melihat nasi itu, Jaka pun tidak menepati janjinya yang tadi bersama Nawang Wulan. Nawang Wulan pun kembali kerumah dilihatnya ternyata nasi yang hanya sepadi tidak menjadi banyak akibat Jaka yang melihat dan melanggar janji itu. Nawang Wulan pun marah dan berkata bahwa Jaka tidak bisa menepati janji dan Nawang Wulan memberi tahu bahwa selama ini Nawang Wulan memiliki kesaktian tetapi kesaktian itu telah hilang akibat ulah Jaka Tarub. Nawang Wulan juga menemukan selendang yang dulu pernah diambil oleh Jaka Tarub ditumpukan padi, Jaka Tarub pun meminta maaf tetapi Nawang Wulan tetap akan kembali ke kayangan, anaknya ditinggal, Jaka Tarub sangat menyesali apa yang telah diperbuatnya. 

Sesi kedua yaitu pementasan monolog Balada Sumarah pada pementasan ini diperankan oleh mahasiswi Universitas PGRI Semarang yang akan dibawa untuk dipentaskan di daerah Kediri. Pada pementasan ini sangat mengejutkan karena yang awalnya hanya satu kotak besar tiba-tiba muncullah seorang wanita yang memerankan monolog tersebut dia sebagai Sumarah seorang TKW dari indonesia yang dikirim ke arab untuk dijadikan babu. Sumarah sangat kesal karena sering dikucilkan akibat bapaknya seorang PKI, merasa dirinya sering diperlakukan tidak adil akhirnya Sumarah memutuskan menjadi seorang TKW di Arab, tetapi sangat disayangkan di Arab pun dia malah disiksa, dihina, dimaki, dan bahkan yang paling naas dia di perkosa oleh majikan nya sendiri. Sumarah sangat marah dan dia dendam pada majikannya, Sumarah membunuh majikannya sendiri dan kini Sumarah di bawa ke pengadilan karena bersalah atas pembunuhan tersebut. Tetapi Sumarah tidak takut bahkan dia siap jika harus sampai di hukum mati karena ia merasa dunia ini tidak adil begitupun negaranya sendiri. Pementasan drama ini benar-benar menakjubkan sampai yang menontonnya pun terkagum-kagum dengan pemeran Sumarah itu.

Minggu, 18 Desember 2016

Apakah UN Perlu ?

Menurut saya Ujian Nasional itu lebih baik bukan ditiadakan atau dihapuskan tetapi diganti oleh ujian yang lain, jangan membuat ujian yang menyusahkan atau menyulitkan siswanya karena merekalah yang akan menjalankan dan memperjuangkan harus juga dikondisikan dengan para siswanya agar mereka tidak hanya terfokuskan pada Mapel intinya saja tetapi semua mapel itu wajib.

Ujian itu sangat penting bagi para siswa SD, SMP maupun SMA karena pada dasarnya ujian itu untuk membuat para siswa lebih meningkatkan belajarnya dan lebih banyak lagi membaca serta cara berpikir yang lebih baik, soal UN akan di hapus atau tidak itu semua sebenarnya harus dipirkan secara lebih matang lagi. Yaa memang Ujian Nasional itu adalah Ujian yang sangat menyeramkan dan bahkan sangat mengerikan, bagi siswa yang kurang ilmu pengetahuan maka akan takut dalam menghadapi Ujian Nasional tetapi apabila siswa yang lebih paham dan pintar biasanya sudah matang dan sudah jauh2 hari mempersiapkan diri. Ujian Nasional juga ada yang membuat siswanya menjadi stres, depresi dan ketakutan yang mendalam akibat Ujian Nasional. Tentu semua itu bergantung pada setiap orang, soal dihapus atau tidak lebih baik berdoa saja agar masa depan generasi penerus bangsa menjadi lebih baik dan lebih cerdas. Semoga. 
(Novi Apik Pratiwi Putri)

Senin, 05 Desember 2016

Generasi Penerus Pahlawan

Oleh: Novi Apik Pratiwi Putri

           
            Tepatnya pada tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan Nasional. Dimana kita sebagai para penerus bangsa harus mengenang perjuangan para pahlawan yang telah gugur dengan jasa-jasa mereka.
            Pahlawan indonesia yaitu Abdul Haris Nasution, Adnan Kapau Gani, Agus Salim, Pangeran Antasari (pada mata uang 2000 rupiah), Bung Tomo, Cuk Nyak Dhien (pada mata uang 10.000 rupiah), Fatmawati, Hamengkubuwono IX, R.A Kartini, Pakubuwono X, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Muhammad Yamin, Sisingamangaraja XII (pada mata uang 1000 rupiah), Sudirman, Albertus Soegijapranata, Sukarno, Tan Malaka, Urip Sumoharjo, dsb.
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan merupakan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran-kebenaran. Pahlawan jika kita lihat lagi, mereka benar-benar menjadikan sesuatu yang mereka perjuangkan itu dijadikan prioritas tidak hanya asal dalam menuju medan perang. Semua itu butuh proses dan pengorbananan yang panjang bahkan bisa menjadi akhir hidup mereka. Kita memang benar-benar kagum dengan para pahlawan yang telah berjasa ini, kadang kala kita ingin seperti mereka.
            Semasa kecil jika kita lihat pahlawan-pahlawan di dunia kartun itu memang sangat menarik, tatkala kita pun ingin seperti itu. Tapi jika di dunia nyata pahlawan bagi kita itu adalah orang tua kita sendiri yang telah berjasa memperjuangkan kita, menasehati kita, menyayangi kita,  memberi arahan yang baik, dan menjadi segalanya dalam hidup kita sendiri. Menjadi seorang pahlawan tidak hanya membela negara ataupun berkorban dan menghadapi perang tetapi menjadi seorang pahlawan itu bisa apa saja yang jelas dalam melakukan hal-hal positif.
            Kita lihat pahlawan-pahlawan bangsa yang telah berjasa kepada negaranya sendiri. Ketika pada masa itu kita melawan Belanda dari pasukan sekutu dengan tujuan Kemerdekaan Indonesia. Sebagai memori pertempuran, 10 November selalu dirayakan setiap tahun sebagai Hari Pahlawan. Pertempuran di Surabaya adalah salah satu pertempuran yang terjadi di negara kita selama memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Mereka mengorbankan diri mereka, darah mereka dan kehidupan mereka.  
            Tetapi pada zaman modern ini sayangnya para pemuda sekarang itu hanya ingin yang praktis kadang tidak ada perjuangannya, harusnya para pemuda pada zaman sekarang ini bisa mencontoh pahlawan yang dulu pernah berjuang demi negara tercinta ini. Juga harus banyak membaca buku-buku pahlawan atau buku tentang ilmu pengetahuan lainnya. Sebagai mahasiswa kita juga harus menjadi pahlawan. Pahlawan dalam arti memjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa dan juga bagi masa depan kelak. Hal ini juga menjadi pemicu mahasiswa untuk membangkitkan rasa semangat dan mendalam agar tumbuh di dalam jiwa dan raga kita. Karena peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang terdapat pada Sumpah Pemuda.
            Lalu kita sebagai mahasiswa hilangkan rasa malas, karena zaman modern ini semakin saja canggih dalam hal teknologi. Pintar-pintarlah menggunakan teknologi, manfaatkan sebaik mungkin. Jangan menyalah gunakan teknologi yang ada, jangan biarkan teknologi menjadi bagian hidupmu karena teknologi tidak akan membawamu terus menerus sampai akhir hayat. Tetapi ilmulah yang akan terus ada hingga akhir hayatmu kelak. 
            Hidup ini terus berjalan, para pahlawan yang telah berjuang pun memanfaatkan hidup mereka dengan sebaik mungkin. Semangat patriotisme dan nasionalisme kita harus membara seperti Kemerdekaan Indonesia ini. Mahasiswa yang mengerti akan hal-hal seperti ini pasti tahu apa yang akan mereka lakukan. Menjadi generasi muda yang memiliki karakter berbangsa dan bernegara harus memiliki mental dan kekuatan moral, kontrol sosial dalam menghadapi apapun nantinya. Pemuda pun harus berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan menjadi agen perubahan dalam aspek pembangunan bangsa ini. Dalam mewujudkan aspek diri kita tersebut, kita juga harus mengembangkan diri kita kemampuan kita yang kita miliki untuk membangun bangsa menjadi yang lebih baik.
            Makna dari Hari Kepahlawanan ini adalah kita sebagai generasi penerus bangsa walau kita tidak mengalami hal pertumpah darahan. Kita harus tetap menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur. Caranya dengan membangun negara kita ini Indonesia menjadi yang terbaik dan bisa memajukan Indonesia ini menjadi negara yang patut di contoh dan menjadikan lebih baik lagi dari sebelumnya. Generasi penerus bangs ini adalah pemuda yang hebat yang berperan aktif dalam segi kegiatannya. Rasa tulus yang dimiliki seseorang untuk melanjutkan perjuangan pahlawan terdahulu adalah benar-benar manusia yang memiliki pola pikir yang baik dan cerdas. Meneruskan generasi yang memuaskan bangsa ini juga tidak perlu dalam melawan musuh jajahan. Tapi kita bisa melakukan dengan hal yang positif, misalnya saja dengan belajar yang tekun agar bisa memiliki bekal yang baik, otak yang cerdas dan ide-ide cemerlang kelak nantinya untuk bangsa negara Indonesia.





NOVI APIK PRATIWI PUTRI

15410256/3F

Para Pemuda Berjuang

Universitas PGRI Semarang merayakan bulan bahasa pada puncaknya tanggal 27 Oktober 2016 dengan tema “Bahasa dan Budaya dalam Sinergi Nusantara”. Selama satu bulan di bulan Oktober diisi dengan lomba-lomba yang diadakan oleh Universitas PGRI Semarang yaitu pada tanggal 11 Oktober lomba drama komedi di Gedung Pusat Universitas PGRI Semarang, 15 Oktober acara Kemah Sastra Bumi Perkemahan Karanggeneng , 18 Oktober lomba Stand Up Comedy (antar mahasiswa perguruan tinggi se-Jateng) di Aula Pascasarjana Universitas PGRI Semarang masih di hari yang sama ada Seminar Nasional di Gedung Pusat Universitas PGRI Semarang, 19 Oktober acara UPGRIS Bersastra di Balairung Universitas PGRI Semarang, 20 Oktober lomba pidato Bahasa Inggris, Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia (Antar mahasiswa perguruan tinggi se-Jateng), 25 Oktober acara festival lagu nusantara (Antar siswa SMA/SMK/MA se-Jateng) di Balairung Universitas PGRI Semarang, masih dengan hari yang sama acara kedua yaitu lomba pidato Bahasa Inggris, Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia (Antar siswa SMA/SMK/MA se-Jateng) di Gedung Pusat Universitas PGRI Semarang, 27 Oktober puncak dari Bulan Bahasa yaitu Festival Budaya di Balairung Universitas PGRI Semarang yang diisi dengan acara lomba Tari Kreasi antar kelas maupun antar Progdi.
 Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00 pagi dan selesai pada pukul 15.00 sore. Acara dimulai dengan paduan suara yang menyanyikan lagu nasional, lalu dilanjutkan lagi Tari Cublak-cublak Suweng yang di bawakan oleh empat mahasiswi tapi salah satu orang itu berasal dari perancis. Seteah itu penyambutan dari Rektor Universitas PGRI Semarang Bapak Muhdi dan disimbolkan dengan penabuhan perkusi oleh Bapak Muhdi dan Mahasiswa yang lain. Setelah itu dilanjut dengan Lomba Tari Kreasi terdapt 28 peserta Tari Kreasi tersebut. Satu persatu mahasiswa menampilkan Tarian yang mereka bawakan. Sampai pada penghujung acara pengumuman lomba Tari Kreasi dan juara pertama dimenangkan oleh progdi Pendidikan Bahasa Daerah.
Progam Pendidikan Bahasa Daerah yang menang juara pertama menampilkan Reog Ponorogo. Mahasiswa tersebut mampu membawa barongan yang beratnya puluhan kilogram dan hebatnya mampu bergerak kesana kemarin tidak jatuh bisa bertahan lama. Kostum Reog Ponorogo tersebut hasil dari peminjaman dari pihak di suatu daerah. Mereka sengaja ingin menampilkan itu karena pasti pada lomba tersebut ingin menampilkan yang beda yang menarik dan pasti ingin menjadi yang terbaik.
Penampilan yang lainnya juga tak kalah menariknya ada yang menampilkan tarian jaipong khas sunda, adapula yang menampilkan tarian jawa, mereka beradu kemampuan untuk dipilih juri menjadi yang terbaik diantara yang baik. Rektor Universitas PGRI Semarang Bapak Muhdi juga sangat tertarik dan menikmati jalan nya acara tersebut. Sebelum pengumuman itu diumumkan, pembawa acara ingin mengajak para mahasiswa untuk tari flashmop yang dipimpin oleh mahasiswa sebagai instruktur tari dan ketika musik dinyalakan semua nya ikut menari dan bergoyang sampai musiknya telah usai dan diulangi kembali karena itu permintaan dari mahasiswa. Setelah selesai menari, juri langsung mengumumkan pemenang Tari Kreasi tersebut ternyata pemenang nya ada juara 1,2,3 dan harapan 1,2,3. Ketika diumumkan yang menang sangatlah senang dan bangga. Yang kalah ataupun yang belum menang tetap semangat dan bisa menampilkan yang terbaik tahun depan.

Pada tanggal 28 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang mengadakan acara dari UKM GEMA yaitu drama tentang peringatan Sumpah Pemuda yang bertemakan “Ingat Pemuda Akan Bangsa”. Sumpah Pemuda “Pertama: Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu Tanah Air Indonesia. Kedua: Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia. Ketiga: Kami Putra Putri Indonesia Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”.
Acara dimulai pada pukul 09.00 pagi dan diawali orasi oleh anggota UKM GEMA dan mahasiswa yang mau ikut serta dalam orasi tersebut. Orasi tersebut menyampaikan agar sebagai pemuda bangsa Indonesia harus mempunyai sikap dan rasa Nasionalisme terhadap Bangsa Indonesia, memiliki etika sopan santun terhadap sesama manusia, memiliki jiwa yang tinggi terhadap Nusa dan Bangsa. Dan harus bisa menjadi generasi muda yang bisa diandalkan dan dibanggakan. Karena masa muda itu adalah masa yang masih memiliki semangat yang tinggi terhadap Bangsa maka dari itu pemuda Indonesia bangkitlah dan jadilah generasi muda yang membanggakan.
Sebagai pemuda Indonesia dan sebagai penerus bangsa maka kita harus menjadi pribadi yang cerdas, memiliki etitude, pandangan yang baik, pikiran yang positif, akhlak dan kesopanan yang tinggi, keyakinan, dan rasa cinta terhadap Nusa dan Bangsa. Agar Negara Indonesia ini lebih maju dan memiliki generasi yang terbaik untuk meneruskan kehidupan Negaranya dan mempu memimpin Negara nya kelak. Karena untuk meneruskan semangat dan rasa Nasionalisme butuh rasa yang tulus dan kepercayaan yang tinggi terhadap apapun yang akan dihadapinya kelak.







NOVI APIK PRATIWI PUTRI

15410256/3F